Komunikasi Keluarga


Komunikasi sangat penting bagi kehidupan manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan pernah mengisolasi dirinya dalam menjalani hidupnya. Rakhmat (1996:2) menjelaskan komunikasi amat esensial buat pertumbuhan kepribadian manusia, dan menurut Liliweri (1997:33) tanpa komunikasi adalah kematian. Sedangkan Littlejohn (1989:1) menyatakan komunikasi bagian yang sentral dan menyentuh seluruh kehidupan manusia, kemudian Ross (1986:4) menyimpulkan, surveys indicate that we spend 75 percent our waking time in communication.
Komunikasi adalah bagian yang integral dalam aktivitas keluarga. Anggota keluarga saling berinteraksi dan saling berkomunikasi dalam melaksanakan berbagai aktivitas. Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan melalui komunikasi keluarga adalah kegiatan bercerita kepada anak. Kegiatan ini baik sekali bagi orang tua dan anak-anak untuk mempelajari emosi. Kisah-kisah dapat menolong anak-anak membina kosa kata untuk berbicara tentang perasaan­perasaan, dan memperjelas berbagai macam cara orang menahan amarah, rasa takut, dan kesedihan mereka, bahkan tema tertentu dapat mengatasi persoalan yang dihadapi anak. Kegiatan ini adalah bagian upaya mendidik anak dalam lingkungan keluarga. Keluarga melalui kegiatan bercerita selain memberikan fungsi hiburan sekaligus mengenalkan dan membekali anak dengan nilai-nilai yang dikemas dalam cerita.
Cerita rakyat menurut Danandjaja (1997:4) mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam. Cerita pada dasarnya dapat memperkaya pengalaman batin dan memperkaya emosi. Perolehan nilai-nilai dari cerita serta kekayaan emosi oleh anak pada gilirannya akan membantu kelancaran hubungan sosial anak. Galvin (1982:2) menyatakan. "Socialization relates directly to moral and culture values. " Jadi keluarga sebagai lembaga sosial terkecil yang utama dan pertama mempunyai kewajiban moral dalam komunikasi edukatif ini.
Anak adalah bagian dari masa depan bangsa, yang diharapkan mampu menjadi insan dewasa tangguh dan sertanggung jawab bagi dirinya maupun bagi masyarakatnya. Oleh sebab itu anak dalam perkembangan fisik, kepribadian, dan intelektualnya memerlukan bimbingan, motivasi, dan kreativitas agar tumbuh menjadi insan ideal sebagaimana yang diharapkan oleh para orang tua ataupun bangsa. Dalam kondisi demikian pemenuhan kebutuhan lahir anak secara terus­menerus tidak boleh luput dari perhatian orangtua.
Anak supaya dapat menjadi bagian dari masa depan bangsa yang diharapkan maka harus dipersiapkan, dibina dan dipupuk kreativitasnya sesuai dengan minat dan kemampuannya agar optimal. McClelland dalam Weiner (1994:11) berdasarkan hasil temuannya menyatakan bahwa dorongan berprestasi (need for achievement) merupakan aspek mentalitas yang sangat penting bagi masyarakat yang sedang membangun. Aspek mentalitas itu dapat terinspirasi dari cerita rakyat.
Setiap daerah mempunyai kekayaan budaya yang diwariskan secara turun­ternurun. Peacock's menyatakan, "Areas of culture as folklore, drama, literature, and art play in presenting identity models." Cerita rakyat diwariskan secara turun-temurun dan dilisankan. Cerita rakyat merupakan bagian dari sarana pencerdasan anak sebagaimana yang dikemukakan dalam konsep McClelland. Pada dasarnya semua cerita dapat mengasah emosi, menumbuhkan imajinasi, serta meningkatkan sikap kritis anak. Oleh sebab itu cerita perlu disosialisasikan kepada anak sejak dini. Sosialisasi cerita merupakan awal dari tumbuhnya minat baca, pengalaman batin, memperkaya emosi, dan pembekalan nilai-nilai sebagai standar acuan perilaku anak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Sosialisasi cerita merupakan upaya membekali nilai-nilai budi pekerti kepada anak. Sosialisasi ini pun merupakan wujud simulasi kepada anak dalam bentuk stimulasi verbal, nonverbal, intelektual, dan taktil.
Penelitian Walraven (1973) menyatakan,
"Anak yang memperoleh stimulasi verbal dari sekelilingnya mendapat tingkat perkembangan yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak memperoleh perlakuan semacam itu. Stimulasi taktil mempunyai pengaruh terhadap susunan otak kecil yang bersama dengan bagian otak yang lain, mempunyai pengaruh tingkah laku sosial-emosional."

Sosialisasi cerita berpengaruh terhadap sosial-emosional. Sosialisasi cerita merupakan salah satu usaha melatih emosi anak dalam meningkatkan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Berdasarkan penelitian dalam Gottman (1997:8- 9) menyatakan,
"Orang tua yang melatih emosi dapat menolong anak mereka berkembang menjadi orang dewasa yang lebih sehat, memperoleh nilai lebih tinggi secara akademis dan lebih sukses. Anak-anak bergaul lebih baik dengan teman-temannya dan tidak banyak mengalami masalah tingkah laku, dan tidak begitu gampang melakukan tindakan kekerasan serta kurang mengalami ketegangan jiwa."

Sosialisasi cerita merupakan awal dari tumbuhnya minat baca, pengalaman batin, memperkaya emosi, dan pembekalan nilai-nilai sebagai standar acuan perilaku anak dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Perolehan nilai-­nilai dari sosialisasi cerita diharapkan dapat menyaring pengaruh budaya asing yang kurang sesuai dengan perilaku yang harus dimiliki anak. Oleh sebab itu mengabaikan sosialisasi cerita dikhawatirkan nilai yang tumbuh pada diri anak mudah goyah dalam menghadapi transformasi sosio-kultural yang telah menggejala. Anak hanya akan mengimitasi informasi yang menerpanya. Selain itu tanpa sosialisasi cerita secara berkesinambungan akan dapat memunahkan bagian kekayaan budaya yang menjadi karakteristik lokal ini.
Penelitian Romsan (1998) tentang "cerita Jemaran dalam Sastra Lisan Masyarakat Tulung Selatan Kabupaten Ogan Komering Ilir" menyimpulkan
"Tidak ada upaya si penutur cerita untuk menurunkan pengetahuannya kepada anak cucu mereka sebagai generasi muda. Tidak ada usaha dari Kanwil Depdikbud Sumatera Selatan dan Kandep Dikbud Kecamatan Tulung Selapan untuk melestarikan cerita-cerita rakyat yang mengalami kepunahan.

Kepunahan cerita rakyat dapat juga terjadi di daerah manapun kalau tidak
didukung upaya memasyarakatkannya, umpamanya melalui regenerasi penutur cerita. Upaya regenerasi penutur cerita rakyat pada masyarakat Bengkulu pun tampaknya kurang berlanjut secara optimal. Pencerita umumnya adalah kaum tua dan pada kodratnya setiap kehidupan akan berakhir.
Ketidakoptimalan regenerasi penutur cerita rakyat dapat diketahui dari beberapa hasil penelitian yakni: Penelitian Fausiah (1995) tentang "Rejung pada Masyarakat Rejang Pesisir", Penelitian Mauliwati tentang (1996) "Cerita Lisan Sedasir", Penelitian Susanti (2000) tentang "Nandai pada Masyarakat Lembak" dan Penelitian Sarwono (2000) tentang "Kedudukan dan Fungsi Cerita Rakyat di Bengkulu Selatan". Kondisi demikian pada gilirannya akan mempercerpat proses dalam memudarkan keberadaan cerita rakyat di masyarakat. Di lain pihak, kesenian modem yang dikemas dalam VCD atau yang ditayangkan media audio visual sangat bervariasi dapat dipilih sesuai selera konsumen dan mudah dijangkau oleh khalayak secara serentak, khususnya oleh masyarakat perkotaan.
Sosialisasi cerita berhubungan dengan pola komunikasi keluarga. Pola komunikasi keluarga menurut Galvin dan Brommel (1986:45) ada dua tipe yakni: (1) aturan komunikasi, dan (2) alur komunikasi. Salah satu alur komunikasi keluarga adalah alur komunikasi semua saluran, artinya semua anggota keluarga saling berbagi informasi. Alur komunikasi semua saluran dapat dikaitkan dengan pola asuh tipe authoritative (demokrasi) yang dikemukakan Baumrind (1968:256) yakni tipe orangtua yang membujuk atau memberi penjelasan baik-buruk segala keinginannya kepada anaknya. Anak diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya tentang aturan-aturan keluarga.
Penelitian Nur Hidayah dkk. (1998) menyatakan poly asuh yang demokratis menjadikan adanya komunikasi yang dialogis antara anak dan orangtua dan adanya kehangatan yang membuat anak merasa diterima orangtua sehingga ada pertautan perasaan, yang memungkinkan anak untuk memahami, menerima, dan menginternalisasi "pesan" nilai moral yang diupayakan untuk diapresiasikan berdasarkan kata hati.
Televisi sebagai salah satu kemajuan teknologi komunikasi saat ini dapat dinikmati dengan mudah. Televisi dari beberapa saluran dapat dinikmati dan mampu menjangkau komunikan ke berbagai pelosok dengan sajian yang bervariasi serta dapat dipilih sesuai dengan selera pemirsanya. Televisi menjadi hiburan ekonomis, menarik, dan praktis karena dapat dinikmati oleh banyak orang dengan mullah. Televisi diyakini memberi wawasan kepada pemirsanya, namun tampaknya bercerita memiliki keunggulan yang tidak didapat dari TV, karena pencerita dan pendengar dapat berhenti kapan saja dan membahas kisah cerita.
Televisi menjadi media komunikasi yang sangat mendominasi aktivitas keluarga. Keluarga bebas menikmati sajian yang sesuai dengan selera tanpa seleksi dan tidak jarang anak sebagai anggota keluarga hanya berinteraksi dengan televisi daripada memanfatkan waktu untuk keluarga. Tidak jarang orangtua menggunakan media untuk menjaga anak-anak. Akibatnya mereka lebih menikmati media daripada waktu bersama orangtua dan keluarga. Tranggono (1998) melalui penelitiann "Pengaruh terpaan Film Anak-Anak pada Media TV Terhadap Motivasi" menyimpulkan bahwa anak lebih cenderung memanfaatkan waktu untuk menonton.
Saat ini hiburan dari berbagai media modern dapat dinikmati dan dipilih dengan mudah sesuai dengan selera konsumen. Apalagi oleh masyarakat perkotaan melalui fasilitas yang tersedia dan dukungan ekonomi dengan mudah mengakses hiburan dari beberapa saluran TV dan VCD. Salah satu program yang ditayangkan TV adalah hiburan untuk anak-anak, namun lebih didominasi cerita­cerita asing.
Sugihastuti (1966:7) menyatakan kemajuan teknologi saat ini menyebabkan ekspansi media ke dalam aktivitas keluarga tidak dapat dihindarkan, dan mengakibatkan kebudayaan oral akan mengalami pergeseran, pada gilirannya peran pencerita menjadi marginal man. Selanjutnya dalam bagian lain Sugihastuti (1996:30) menjelaskan konsekuensi dari pergeseran ini menurut akan melunturkan keakraban keluarga karena telah mengurangi relasi­relasi fisiologis dan psikologis pencerita orangtua dengan anak.
Cerita mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai penuntun kehidupan. Penelitian Amri (1998) tentang "Sastra Lisan Padang Guci" di Provinsi Bengkulu menyimpulkan cerita rakyat sarat nilai edukatif seperti: baik­buruk, kepahlawanan, tokoh yang bodoh, lingkungan, dan anak durhaka. Cerita disampaikan, nenek, kakek, ayah, ibu, bibi atau siapa saja angota keluarga. Penelitian Agustina (1998) tentang "Tokoh Pembangunan dalam Cerita Rakyat Bengkulu" memperlihatkan watak/sifat yang positif, sejalan dengan konsep/gagasan yang relevan dengan konsep pembangunan manusia Indonesia.
Sehubungan dengan manfaat yang diperoleh dari cerita maka perlu upaya meningkatkan komunikasi keluarga, dapat dilaksanakan dengan membudayakan kembali media komunikasi yang pernah memasyarakat dalam aktivitas keluarga, yakni kebiasaan bercerita atau mendongeng yang diharapkan dapat memupuk keterampilan berbahasa yakni: menyimak, membaca, dan berbicara. Schultze (1996:10) mengatakan aktivitas komunikasi dalam keluarga dapat dilakukan dengan tiga cara yakni: (1) bercerita, (2) mendengarkan, dan (3) berempati. Melalui aktivitas ini hubungan emosional yang penuh cinta kasih antaranggota keluarga dapat terbina.
Lasswell (dalam Wright, 1985:7-8) menyatakan empat aktivitas pokok komunikasi yakni, 1) pengawasan lingkungan, 2) korelasi antar bagian masyarakat dalam menganggapi lingkungan, 3) transmisi warisan sosial dari suatugenerasi ke generasi berikutnya, dan 4) entertainment (hiburan).
Dalam aktivitas pokok komunikasi yang dikemukakan Lasswell terkait dengan transmisi warisan sosial budaya dan hiburan. Transmisi berfokus kepada komunikasi pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-norma sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya. Cerita rakyat adalah bagian budaya yang mengemas nilai­nilai dan norma-norma atau ajaran yang harus dilestarikan melalui pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh sebab itu cerita rakyat harus dikomunikasikan umpamanya melalui komunikasi keluarga. Cerita rakyat juga dapat berfungsi sebagai hiburan.
Orangtua sebagai orang yang pertama dan utama dalam membentuk perilaku anak hendaknya mampu menyediakan waktu yang memadai berkumpul bersama anggota keluarga. Kesempatan berkumpul ini akan bermanfaat untuk saling berkomunikasi antar anggota keluarga dan untuk menumbuhkan keakraban sesamanya. Dalam sistuasi demikian diharapkan orangtua memberi makna pendidikan atau pengaruh yang bermanfaat dalam perkembangan anak.
Kegiatan bercerita sebagai salah satu upaya dalam membina hubungan emosional, sekaligus dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak. Cerita mengandung nilai-nilai: edukatif, religius, dan social, maka nilai ini pun akan dapat diperkenalkan kepada anak melalui kegiatan bercerita. Melalui kegiatan ini anak akan mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya. Menumbuhkan kebiasaan ini sejak dini pun merupakan langkah awal dalam, memupuk minat baca, melatih emosi, dan memupuk kemampuan apresiasi anak, Serta meningkatkan penguasaan bahasa anak. Keterampilan ini sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir anak.
Sosialisasi cerita secara intensif akan berpotensi dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap cerita rakyat. Anak akan mengidolakan tokoh-tokoh tertentu dan akan mengidentifikasikan dirinya kemudian mengaktualisasikan emosi-emosinya. Perasaan anak akan dibangkitkan melalui sifat dan perilaku tokoh-tokoh kemudian akan mempertajam imajinasinya akhirnya dapat mendatangkan efek atau dampak pada sikap anak.

Tidak ada komentar: