Komunikasi
adalah bagian yang integral dalam aktivitas keluarga. Anggota keluarga saling
berinteraksi dan saling berkomunikasi dalam melaksanakan berbagai aktivitas.
Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan melalui komunikasi keluarga adalah
kegiatan bercerita kepada anak. Kegiatan ini baik sekali bagi orang tua dan
anak-anak untuk mempelajari emosi. Kisah-kisah dapat menolong anak-anak membina
kosa kata untuk berbicara tentang perasaanperasaan, dan memperjelas berbagai
macam cara orang menahan amarah, rasa takut, dan kesedihan mereka, bahkan tema
tertentu dapat mengatasi persoalan yang dihadapi anak. Kegiatan ini adalah
bagian upaya mendidik anak dalam lingkungan keluarga. Keluarga melalui
kegiatan bercerita selain memberikan fungsi hiburan sekaligus mengenalkan dan
membekali anak dengan nilai-nilai yang dikemas dalam cerita.
Cerita rakyat menurut Danandjaja
(1997:4) mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial,
dan proyeksi keinginan terpendam. Cerita pada dasarnya dapat memperkaya
pengalaman batin dan memperkaya emosi. Perolehan nilai-nilai dari cerita serta
kekayaan emosi oleh anak pada gilirannya akan membantu kelancaran hubungan
sosial anak. Galvin (1982:2) menyatakan. "Socialization relates
directly to moral and culture values. " Jadi keluarga sebagai lembaga
sosial terkecil yang utama dan pertama mempunyai kewajiban moral dalam
komunikasi edukatif ini.
Anak adalah bagian dari masa
depan bangsa, yang diharapkan mampu menjadi insan dewasa tangguh dan sertanggung
jawab bagi dirinya maupun bagi masyarakatnya. Oleh sebab itu anak dalam
perkembangan fisik, kepribadian, dan intelektualnya memerlukan bimbingan,
motivasi, dan kreativitas agar tumbuh menjadi insan ideal sebagaimana yang
diharapkan oleh para orang tua ataupun bangsa. Dalam kondisi demikian pemenuhan
kebutuhan lahir anak secara terusmenerus tidak boleh luput dari perhatian
orangtua.
Anak supaya dapat menjadi bagian
dari masa depan bangsa yang diharapkan maka harus dipersiapkan, dibina dan dipupuk
kreativitasnya sesuai dengan minat dan kemampuannya agar optimal. McClelland
dalam Weiner (1994:11) berdasarkan hasil temuannya menyatakan bahwa dorongan
berprestasi (need
for achievement) merupakan
aspek mentalitas yang sangat penting bagi masyarakat yang sedang membangun.
Aspek mentalitas itu dapat terinspirasi dari cerita rakyat.
Setiap daerah mempunyai kekayaan budaya yang diwariskan
secara turunternurun. Peacock's menyatakan, "Areas of culture as
folklore, drama, literature, and art play in presenting identity models." Cerita
rakyat diwariskan secara turun-temurun dan dilisankan. Cerita rakyat merupakan
bagian dari sarana pencerdasan anak sebagaimana yang dikemukakan dalam konsep
McClelland. Pada dasarnya semua cerita dapat mengasah emosi, menumbuhkan
imajinasi, serta meningkatkan sikap kritis anak. Oleh sebab itu cerita perlu
disosialisasikan kepada anak sejak dini. Sosialisasi cerita merupakan awal dari
tumbuhnya minat baca, pengalaman batin, memperkaya emosi, dan pembekalan
nilai-nilai sebagai standar acuan perilaku anak dalam menjalani kehidupan
bermasyarakat.
Sosialisasi cerita merupakan upaya membekali nilai-nilai
budi pekerti kepada anak. Sosialisasi ini pun merupakan wujud simulasi kepada
anak dalam bentuk stimulasi verbal, nonverbal, intelektual, dan taktil.
Penelitian
Walraven (1973) menyatakan,
"Anak
yang memperoleh stimulasi verbal dari sekelilingnya mendapat tingkat
perkembangan yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak memperoleh perlakuan
semacam itu. Stimulasi taktil mempunyai pengaruh terhadap susunan otak kecil
yang bersama dengan bagian otak yang lain, mempunyai pengaruh tingkah laku
sosial-emosional."
Sosialisasi cerita
berpengaruh terhadap sosial-emosional. Sosialisasi cerita merupakan salah satu
usaha melatih emosi anak dalam meningkatkan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Berdasarkan penelitian
dalam Gottman (1997:8- 9) menyatakan,
Sosialisasi
cerita merupakan awal dari tumbuhnya minat baca, pengalaman batin, memperkaya
emosi, dan pembekalan nilai-nilai sebagai standar acuan perilaku anak dalam
menjalani kehidupan bermasyarakat. Perolehan nilai-nilai dari sosialisasi
cerita diharapkan dapat menyaring pengaruh budaya asing yang kurang sesuai
dengan perilaku yang harus dimiliki anak. Oleh sebab itu mengabaikan
sosialisasi cerita dikhawatirkan nilai yang tumbuh pada diri anak mudah goyah
dalam menghadapi transformasi sosio-kultural yang telah menggejala. Anak hanya
akan mengimitasi informasi yang menerpanya. Selain itu tanpa sosialisasi cerita
secara berkesinambungan akan dapat memunahkan bagian kekayaan budaya yang
menjadi karakteristik lokal ini.
Penelitian
Romsan (1998) tentang "cerita Jemaran dalam Sastra Lisan Masyarakat Tulung
Selatan Kabupaten Ogan Komering Ilir" menyimpulkan
"Tidak
ada upaya si penutur cerita untuk menurunkan pengetahuannya kepada anak cucu
mereka sebagai generasi muda. Tidak ada usaha dari Kanwil Depdikbud Sumatera
Selatan dan Kandep Dikbud Kecamatan Tulung Selapan untuk melestarikan
cerita-cerita rakyat yang mengalami kepunahan.
Kepunahan
cerita rakyat dapat juga terjadi di daerah manapun kalau tidak
didukung upaya
memasyarakatkannya, umpamanya melalui regenerasi penutur cerita. Upaya regenerasi penutur cerita rakyat pada
masyarakat Bengkulu pun tampaknya kurang berlanjut secara optimal. Pencerita
umumnya adalah kaum tua dan pada kodratnya setiap kehidupan akan berakhir.
Ketidakoptimalan
regenerasi penutur cerita rakyat dapat diketahui dari beberapa hasil penelitian
yakni: Penelitian Fausiah (1995) tentang "Rejung pada Masyarakat Rejang
Pesisir", Penelitian Mauliwati tentang (1996) "Cerita Lisan
Sedasir", Penelitian Susanti (2000) tentang "Nandai pada Masyarakat
Lembak" dan Penelitian Sarwono (2000) tentang "Kedudukan dan Fungsi
Cerita Rakyat di Bengkulu Selatan". Kondisi demikian pada gilirannya akan
mempercerpat proses dalam memudarkan keberadaan cerita rakyat di masyarakat. Di
lain pihak, kesenian modem yang dikemas dalam VCD atau yang ditayangkan media
audio visual sangat bervariasi dapat dipilih sesuai selera konsumen dan mudah
dijangkau oleh khalayak secara serentak, khususnya oleh masyarakat perkotaan.
Sosialisasi
cerita berhubungan dengan pola komunikasi keluarga. Pola komunikasi keluarga
menurut Galvin dan Brommel (1986:45) ada dua tipe yakni: (1) aturan komunikasi,
dan (2) alur komunikasi. Salah satu alur komunikasi keluarga adalah alur
komunikasi semua saluran, artinya semua anggota keluarga saling berbagi
informasi. Alur komunikasi semua saluran dapat dikaitkan dengan pola asuh tipe authoritative
(demokrasi) yang dikemukakan Baumrind (1968:256) yakni tipe orangtua yang
membujuk atau memberi penjelasan baik-buruk segala keinginannya kepada anaknya.
Anak diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya tentang aturan-aturan
keluarga.
Penelitian
Nur Hidayah dkk. (1998) menyatakan poly asuh yang demokratis menjadikan adanya
komunikasi yang dialogis antara anak dan orangtua dan adanya kehangatan yang
membuat anak merasa diterima orangtua sehingga ada pertautan perasaan, yang
memungkinkan anak untuk memahami, menerima, dan menginternalisasi
"pesan" nilai moral yang diupayakan untuk diapresiasikan berdasarkan
kata hati.
Televisi sebagai salah satu
kemajuan teknologi komunikasi saat ini dapat dinikmati dengan mudah. Televisi
dari beberapa saluran dapat dinikmati dan mampu menjangkau komunikan ke
berbagai pelosok dengan sajian yang bervariasi serta dapat dipilih sesuai
dengan selera pemirsanya. Televisi menjadi hiburan ekonomis, menarik, dan
praktis karena dapat dinikmati oleh banyak orang dengan mullah. Televisi
diyakini memberi wawasan kepada pemirsanya, namun tampaknya bercerita memiliki
keunggulan yang tidak didapat dari TV, karena pencerita dan pendengar dapat
berhenti kapan saja dan membahas kisah cerita.
Televisi menjadi media komunikasi
yang sangat mendominasi aktivitas keluarga. Keluarga bebas menikmati sajian
yang sesuai dengan selera tanpa seleksi dan tidak jarang anak sebagai anggota
keluarga hanya berinteraksi dengan televisi daripada memanfatkan waktu untuk
keluarga. Tidak jarang orangtua menggunakan media untuk menjaga anak-anak.
Akibatnya mereka lebih menikmati media daripada waktu bersama orangtua dan
keluarga. Tranggono (1998) melalui penelitiann "Pengaruh terpaan Film
Anak-Anak pada Media TV Terhadap Motivasi" menyimpulkan bahwa anak lebih
cenderung memanfaatkan waktu untuk menonton.
Saat ini hiburan dari berbagai
media modern dapat dinikmati dan dipilih dengan mudah sesuai dengan selera
konsumen. Apalagi oleh masyarakat perkotaan melalui fasilitas yang tersedia dan
dukungan ekonomi dengan mudah mengakses hiburan dari beberapa saluran TV dan VCD.
Salah satu program yang ditayangkan TV adalah hiburan untuk anak-anak, namun
lebih didominasi ceritacerita asing.
Sugihastuti (1966:7) menyatakan
kemajuan teknologi saat ini menyebabkan ekspansi media ke dalam aktivitas
keluarga tidak dapat dihindarkan, dan mengakibatkan kebudayaan oral akan
mengalami pergeseran, pada gilirannya peran pencerita menjadi marginal man.
Selanjutnya dalam bagian lain Sugihastuti (1996:30) menjelaskan konsekuensi
dari pergeseran ini menurut akan melunturkan keakraban keluarga karena telah
mengurangi relasirelasi fisiologis dan psikologis pencerita orangtua dengan
anak.
Cerita mengandung nilai-nilai
yang dapat dijadikan sebagai penuntun kehidupan. Penelitian Amri (1998) tentang
"Sastra Lisan Padang Guci" di Provinsi Bengkulu menyimpulkan cerita
rakyat sarat nilai edukatif seperti: baikburuk, kepahlawanan, tokoh yang
bodoh, lingkungan, dan anak durhaka. Cerita disampaikan, nenek, kakek, ayah,
ibu, bibi atau siapa saja angota keluarga. Penelitian Agustina (1998) tentang
"Tokoh Pembangunan dalam Cerita Rakyat Bengkulu"
memperlihatkan watak/sifat yang positif, sejalan dengan konsep/gagasan yang
relevan dengan konsep pembangunan manusia Indonesia.
Sehubungan
dengan manfaat yang diperoleh dari cerita maka perlu upaya meningkatkan komunikasi
keluarga, dapat dilaksanakan dengan membudayakan kembali media komunikasi yang
pernah memasyarakat dalam aktivitas keluarga, yakni kebiasaan bercerita atau
mendongeng yang diharapkan dapat memupuk keterampilan berbahasa yakni:
menyimak, membaca, dan berbicara. Schultze (1996:10) mengatakan aktivitas
komunikasi dalam keluarga dapat dilakukan dengan tiga cara yakni: (1)
bercerita, (2) mendengarkan, dan (3) berempati. Melalui aktivitas ini hubungan
emosional yang penuh cinta kasih antaranggota keluarga dapat terbina.
Lasswell
(dalam Wright, 1985:7-8) menyatakan empat aktivitas pokok komunikasi yakni, 1)
pengawasan lingkungan, 2) korelasi antar bagian masyarakat dalam menganggapi
lingkungan, 3) transmisi warisan sosial dari suatugenerasi ke generasi berikutnya,
dan 4) entertainment (hiburan).
Orangtua
sebagai orang yang pertama dan utama dalam membentuk perilaku anak hendaknya
mampu menyediakan waktu yang memadai berkumpul bersama anggota keluarga. Kesempatan
berkumpul ini akan bermanfaat untuk saling berkomunikasi antar anggota keluarga
dan untuk menumbuhkan keakraban sesamanya. Dalam sistuasi demikian diharapkan
orangtua memberi makna pendidikan atau pengaruh yang bermanfaat dalam
perkembangan anak.
Kegiatan
bercerita sebagai salah satu upaya dalam membina hubungan emosional, sekaligus
dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak. Cerita mengandung
nilai-nilai: edukatif, religius, dan social, maka nilai ini pun akan dapat
diperkenalkan kepada anak melalui kegiatan bercerita. Melalui kegiatan ini anak
akan mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.
Menumbuhkan kebiasaan ini sejak dini pun merupakan langkah awal dalam, memupuk
minat baca, melatih emosi, dan memupuk kemampuan apresiasi anak, Serta
meningkatkan penguasaan bahasa anak. Keterampilan ini sangat berperan dalam
meningkatkan kemampuan berpikir anak.
Sosialisasi
cerita secara intensif akan berpotensi dalam menumbuhkan kecintaan anak
terhadap cerita rakyat. Anak akan mengidolakan tokoh-tokoh tertentu dan akan
mengidentifikasikan dirinya kemudian mengaktualisasikan emosi-emosinya.
Perasaan anak akan dibangkitkan melalui sifat dan perilaku tokoh-tokoh kemudian akan mempertajam
imajinasinya akhirnya dapat mendatangkan efek atau dampak pada sikap anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar